08 Mei 2010

Hari Lupus Se-Dunia

 

 

Bandung- 300 penderita Lupus berjalan santai bersama "Walk For Lupus (WFL)" dalam rangka memperingati hari Lupus se-dunia di Aula Timur Kampus ITB, Jalan Ganesha, Bandung, Sabtu.
Hari Lupus se-Dunia yang jatuh pada Senin (10/5) itu, acaranya dipusatkan di Aula Timur Kampus ITB, diawali dengan jalan santai yang dimulai sejak pukul 6.00 WIB dengan rute Jalan Ganesha - Ir. H. Juanda - Taman Dago - Jalan Ir. H. Juanda - dan kembali ke Jalan Ganesha (Aula Timur ITB).
Ketua panitia WFL, yang juga Development Program Officer Syamsi Dhuha Foundation (SDF) sebuah yayasan sosial pemerhati Lupus di Bandung, Dedeng Juheri mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk memasyarakatkan kembali apa itu Lupus, sehingga warga Kota Bandung dapat lebih mengenal dan memahami penyakit Lupus.

Dedeng menjelaskan, penyakit Lupus seringkali disebut sebagai penyakit seribu wajah, karena dapat meniru berbagai macam penyakit dan keadaannya. Gejalanya yang sangat beragam dan dapat berbeda antara satu pasien dangan pasien yang lainnya, membuatnya sulit untuk dideteksi.
"Dari demam, nyeri otot dan sendi, rasa lelah dan lemas yang berkepanjangan, sariawan yang terus-menerus, gangguan pencernaan, anemia, sakit kepala, sensitif terhadap sinar matahari, tekanan darah tinggi, hingga gagal ginjal dan stroke," ungkapnya.


Lupus atau tepatnya SLE (Systemic Lupus Erythematosus), secara medis, SLE merupakan penyakit sistem daya tahan atau kekebalan (autoimun). Pada penderita lupus, antibodi diproduksi berlebihan. Antibodi, yang diibaratkan sebagai tentara di suatu negara yang seharusnya melindungi rakyatnya (organ tubuh) dari musuh (penyakit), malah bekerja salah arah, menyerang rakyatnya sendiri.


"Antibodi justru merusak organ tubuh sendiri, diantaranya kulit, syaraf, otot dan persendian, mata, jantung, darah, hati, ginjal dan paru. Seperti layaknya kudeta antibodi pada badan penderitanya sendiri," kata Dedeng.
Kegiatan memperingati hari Lupus itu dilanjutkan dengan senam sehat, bazar, pameran, konser musik mini dan terakhir ditutup dengan seminar dengan tema "Hidup Sehat bersama dr. Puti Rita Liswari, M.Sc, M.Kes direktur Integrated Health Center (IHC) Bandung".



Jakarta - Para penderita lupus di Indonesia, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Odapus, melalui Yayasan Lupus Indonesia memperingati Hari Lupus Sedunia yang jatuh pada tanggal 10 Mei. Mereka menggelar berbagai bentuk kegiatan di Jakarta. Rangkaian acara kali ini berisi temu wicara, peluncuran buku karangan Damien Dematra yang berjudul Ketika Aku Menyentuh Awan dan Malam Lilin Hari Lupus Sedunia serta penyebaran materi edukasi untuk masyarakat luas.







Peringatan Hari Lupus Sedunia ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai gejala awal dan konsekuensi kesehatan akibat lupus yang terlambat dideteksi serta menyuarakan pentingnya penanganan lupus secara tepat.
"Tak ada yang tak mungkin, jika ada kemauan keras. Hari Lupus Sedunia ini menyuarakan pentingnya perhatian pemerintah bagi penenganan lupus yang tepat," kata Tiara Savitri.

"Kami mengajak semua kalangan, baik keluarga, praktisi medis, masyarakat dan tentu saja pemerintah untuk bersama-sama berupaya merumuskan cara terbaik untuk membantu para Odapus sehingga mereka dapat mendapatkan akses terhadap pengobatan lupus yang tepat, serta kualitas hidup yang baik," lanjutnya.
(NR)



www.suaramerdeka.com
www.tribunnews.com

0 comments:

Post a Comment