Kupas tentang Bintitan

Hari ke-3 di minggu kedua menjalani kepaniteraan klinik di stase Mata. Dalam satu minggu ke depan kami menimba ilmu di Metro, RS Ahmad Yani. Stase mata memiliki bagian yang mirip dengan stase THT, ada poliklinik mata, ruang rawat inap bedah bagian mata, dan OK (kamar operasi).

Nah, hari ini di poliklinik mata ada kasus bintitan. Dalam istilah kedokteran, bintitan ada 2 macam, kalau yang akut disebut dengan hordeolum, sedangkan yang kronik disebut dengan kalazion. Hayo, ada yang pernah bintitan? hehe..

Jadi hordeolum dan kalazion itu punya persamaan, yaitu sama-sama merupakan peradangan kelenjar kelopak mata. Perbedaannya, hordeolum punya gejala klinis yang sifatnya akut, yaitu kelopak mata bengkak, nyeri bila ditekan, warna nya merah, kadang - kadang disertai keluhan kelopak mata yang sulit diangkat atau disebut ptosis maupun pseudoptosis. Pada hordeolum, pseudoptosis terjadi karena kelopak mata atas (palpebra superior) bertambah berat sehingga sulit mengangkat kelopak.

Sedangkan kalazion, karena merupakan peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang tersumbat, sifatnya kronik, tidak ada tanda radang akut. Jadi sifat benjolannya sudah lebih tenang, hanya berupa benjolan pada kelopak mata, tidak nyeri, tidak  merah, ada pseudoptosis.

Penyebab bintitan apa? Ngintip orang mandi? Kebanyakan mewek? Atau ada yang lain? 
Penyebabnya adalah infeksi bakteri Staphylococcus sp. pada kelenjar sebasea kelopak mata.

Kalau udah kena penyakit bintitan cara ngobatinnya gimana?
Nah, terapi penyakit ini tergantung jenisnya.
Kalau hordeoloum (akut), kita terapi oral dengan antibiotik dan antiinflamasi. Untuk mempercepat radang mereda, dapat diberikan kompres air hangat 3 kali sehari, selama 10 menit sampai nanah keluar. Kadang - kadang diperlukan insisi hordeolum, fungsinya untuk mengeluarkan nanah dari kantung nanahnya.

Untuk kalazion, prinsip penatalaksanaaannya hampir sama dengan hordeolum. Terapi oral dan jika diperlukan dapat dilakukan tindakan ekskokleasi kalazion.

Hari ini kami mendapatkan seorang pasien dengan diagnosa kalazion. Berikut prosedur ekskokleasi kalazion yang dilakukan :


dok.pribadi. Alat dan bahan untuk ekskokleasi kalazion
Alat dan bahan yang diperlukan:
  • Tetes mata topikal pantocain 2%
  • Salep mata antibotik, Gentamicin 0,3%
  • Klem kalazion
  • Kuret
  • Spuit 1 cc
  • Kapas
  • Kassa
  • Plester
  • Gunting
  • Bengkok
Setelah siap, maka prosedur ekskokleasi kalazion sebagai berikut :
  1. Setelah pasien berbaring di tempat tidur (bed) tindakan, minta pasien untuk membuka mata. Buka kelopak mata pasien yang sakit, dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari kita. Berikan tetes mata pantocain 2-3 tetes pada mata yang sakit.
  2. Lakukan anestesi infiltratif, suntikkan lidocain 2% di bawah kulit kelopak mata, tepat di depan kalazion.
  3. Kalazion dijepit menggunakan klem kalazion, jepit pada palpebra inferior yang terdapat kalazion. Kemudian putar skrup pada klem hingga terfiksasi.
  4. Balik klem, sehingga konjungtiva tarsal dan kalazion terlihat. 
  5. Dengan menggunakan kuret tajam, lakukan insisi kalazion tegak lurus terhadap margo palpebra (membentuk angka 1/vertikal), kemudian isi kalazion dikuret sampai bersih. Lepas klem kalazion.
  6. Beri salep mata Gentamicin 0,3% pada kelopak mata yang sakit. Kemudian tutup mata dengan kassa dan plester.
Setelah prosedur ekskokleasi selesai, pasien dapat diedukasi untuk mengganti perban setiap pagi hari, dan mengolesi salep mata antibiotik pada malam hari. 

dok.pribadi. Prosedur ekskokleasi kalazion (bintitan)
Prosedur ini dapat dilakukan oleh dokter layanan primer ketika menemukan kasusnya di puskesmas maupun di praktek sehari - hari. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat untuk pembaca :)

*Catatan:
  • Dalam menangani hordeolum dan kalazion, kemungkinan ke arah keganasan tetap dipikirkan. Tampilan karsinoma kelenjar meibom mirip dengan kalazion.
  • Pasien diminta untuk kontrol kembali terutama jika peradangan tidak mereda. Cari underlying cause-nya.

Kepustakaan:
Ilyas, Sidarta. 2009. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ke-3. Jakarta. FK UI. Hal 92-95
Vaughan, D., dkk. 2000. Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta. Widya Medika. Hal 82

0 comments:

Post a Comment